Tinggal lah seorang janda cantik bernama Kantil. Ia berusia 20 tahun dan hidup di tengah hutan belantara. Ia sedang mengandung putri kecil yang menginjak usia 9 bulan. Setiap hari ia merasakan kesakitan seolah ingin melahirkan. Tak hanya itu, ia juga sering menangis karena teringat akan kepergian suami karena insiden kecelakaan. Kini, semua harus ia lakukan sendiri tanpa didampingi suami remipoker88 . Malam ini, malam 1 suro tanpa bantuan orang lain ia sekuat tenaga mempersiapkan keperluan untuk melahirkan. Ia merasa bahwa putri kecilnya akan segera keluar. Tepat jam 12 malam ia melahirkan putri kecilnya yang ia beri nama Suci Lindung Alam. Bahagia dan terharu, akhirnya ia bisa melihat putri kecilnya yang ia tunggu-tunggu selama ini. Setelah melahirkan, ia beristirahat sejenak sambil menyusui putri kecilnya. Tak lama, keluar air mata sembari mengatakan “Tuhan, terima kasih anugerah yang begitu indah ini. Hamba ikhlas atas kepergian suami, namun tolong jagakan putri kecil hamba ini...
Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai remipoker login Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan...